🐼 Contoh Askep Diare Pada Orang Dewasa
Diarekondisinya dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (Fructose, Lactose), penyakit dan makana atau kelebihan Vitamin C dan biasanya disertai sakit perut dan seringkali enek dan muntah. Dimana menurut WHO (1980) diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan diare kronik.
5 Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain : a. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu b. obat-obatan atau vitamin ( A) R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare Tujuan : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C) Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor
ASKEPDIARE. Keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh sangat di perlukan untuk memelihara kesehatan dan fungsi tubuh. Keseimbangan adalah menjaga distribusi air dan elektrolit yang masuk dan keluar di dalam tubuh, ketidakseimbangan dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan beberapa penyakit.
IntervensiKeperawatan pada Klien Diare Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
l61XtK. Diare adalah diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang sering, lunak, dan tidak ini diberi kode masuk dalam kategori fisiologis, subkategori nutrisi dan cairan dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia SDKI.Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan diare secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikutPenyebab EtiologiTanda dan GejalaPenulisan DiagnosisLuaran HYDIntervensi Manajemen Diare Cairan TerkaitPenyebab EtiologiPenyebab etiologi dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis etiologi untuk masalah diare adalahPenyebab fisiologisInflamasi gastrointestinalIritasi gastrointestinalProses infeksiMalabsorpsiPenyebab psikologisKecemasan Tingkat stres tinggi Penyebab SituasionalTerpapar kontaminan Terpapar toksin Penyalahgunaan laksatifPenyalahgunaan zatProgram pengobatan agen tiroid, analgesik, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine, dan antibiotikPerubahan air dan makananBakteri pada airTanda dan GejalaUntuk dapat mengangkat diagnosis diare, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaituDSTidak adaDODefekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jamFeses lembek atau cairBila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori nutrisi dan cairan pada DiagnosisDiagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu[masalah] + [penyebab] + [tanda/gejala].Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti iniDiare berhubungan dengan iritasi gastrointestinal dibuktikan dengan defekasi 4 kali dalam 24 jam, feses bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadiDiare iritasi gastrointestinal defekasi 4 kali dalam 24 jam, feses = DiarePenyebab = Iritasi gastrointestinalTanda/gejala = Defekasi… = berhubungan = dibuktikan denganPelajari lebih rinci pada “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”Luaran HYDDalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia SLKI, luaran utama untuk diagnosis diare adalah “eliminasi fekal membaik.”Eliminasi fekal membaik diberi kode dalam fekal membaik berarti proses pengeluaran feses yang mudah dengan konsistensi, frekuensi, dan bentuk feses yang hasil untuk membuktikan bahwa eliminasi fekal membaik adalahKontrol pengeluaran feses meningkatKeluhan defekasi lama dan sulit menurunMengejan saat defekasi menurunKonsistensi feses membaikFrekuensi BAB membaikPeristaltik usus membaikKetika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].ContohSetelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka eliminasi fekal membaik, dengan kriteria hasilKontrol pengeluaran feses meningkatKeluhan defekasi lama dan sulit menurunMengejan saat defekasi menurunKonsistensi feses membaikFrekuensi BAB membaikPeristaltik usus membaikPerhatikanLabel = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka eliminasi fekalEkspektasi = MembaikKriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”IntervensiSaat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/ itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia SIKI, intervensi utama untuk diagnosis diare adalahManajemen diarePemantauan cairanManajemen Diare manajemen diare dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia SIKI diberi kode diare adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola diare dan yang dilakukan pada intervensi manajemen diare berdasarkan SIKI, antara lainObservasiIdentifikasi penyebab diare mis inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stres, obat-obatan, pemberian botol susuIdentifikasi Riwayat pemberian makananIdentifikasi gejala invaginasi mis tangisan keras, kepucatan pada bayiMonitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi fesesMonitor tanda dan gejala hypovolemia mis takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa kulit kering, CRT melambat, BB menurunMonitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianalMonitor jumlah dan pengeluaran diareMonitor keamanan penyiapan makananTerapeutikBerikan asupan cairan oral mis larutan garam gula, oralit, Pedialyte, renalytePasang jalur intravenaBerikan cairan intravena mis ringer asetat, ringer laktat, jika perluAmbil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolitAmbil sampel feses untuk kultur, jika perluEdukasiAnjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahapAnjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan mengandung laktosaAnjurkan melanjutkan pemberian ASIKolaborasiKolaborasi pemberian obat antimotilitas mis loperamide, difenoksilatKolaborasi pemberian antispasmodik/spasmolitik mis papaverine, ekstrak belladonna, mebeverineKolaborasi pemberian obat pengeras feses mis atapugit, smektit, kaolin-pektinPemantauan Cairan pemantauan cairan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia SIKI diberi kode cairan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data terkait pengaturan keseimbangan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan berdasarkan SIKI, antara lainObservasiMonitor frekuensi dan kekuatan nadiMonitor frekuensi napasMonitor tekanan darahMonitor berat badanMonitor waktu pengisian kapilerMonitor elastisitas atau turgor kulitMonitor jumlah, warna, dan berat jenis urinMonitor kadar albumin dan protein totalMonitor hasil pemeriksaan serum mis osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, dan BUNMonitor intake dan output cairanIdentifikasi tanda-tanda hypovolemia mis frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkatIdentifikasi tanda-tanda hypervolemia mis dispnea, edema perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam waktu singkatIdentifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan mis prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinalTerapeutikAtur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasienDokumentasikan hasil pemantauanEdukasiJelaskan tujuan dan prosedur pemantauanDokumentasikan hasil pemantauanDiagnosis TerkaitDaftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori nutrisi dan cairan adalahBerat badan lebihDefisit nutrisiDisfungsi motilitas gastrointestinalHipervolemiaHipovolemiaIkterik neonatusKesiapan peningkatan keseimbangan cairanKesiapan peningkatan nutrisiKetidakstabilan kadar glukosa darahMenyusui efektifMenyusui tidak efektifObesitasRisiko berat badan lebihRisiko defisit nutrisiRisiko disfungsi motilitas gastrointestinalRisiko hipovolemiaRisiko ikterik neonatusRisiko ketidakseimbangan cairanRisiko ketidakseimbangan elektrolitRisiko ketidakstabilan kadar glukosa darahRisiko syokReferensiPPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan IndonesiaDefinisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III Revisi. Jakarta 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta PPNI.
0% found this document useful 0 votes6K views9 pagesDescriptionLaporan KasusCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes6K views9 pagesLaporan Kasus Diare Akut DewasaJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Loperamide adalah obat yang bekerja untuk memperlambat gerak usus agar menghasilkan feses dalam bentuk lebih padat. Anda bisa memperoleh obat ini dengan resep dokter atau membelinya langsung di apotek. Dosis loperamid untuk orang dewasa adalah 4 mg setelah buang air besar BAB. Obat diare ini maksimal dikonsumsi 8 mg per hari. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, atau tablet yang meleleh. Ada juga loperamide dalam bentuk cair, tetapi obat ini hanya bisa didapatkan melalui resep dokter. 3. Bismuth subsalicylate Selain sering digunakan untuk mengatasi nyeri perut dan gejala maag, obat ini juga memiliki sifat antidiare dan antiradang. Obat ini bekerja memperkuat dinding lambung dan usus kecil untuk melindungi organ pencernaan Anda dari infeksi bakteri. Dosis obat untuk dewasa yang mengalami diare adalah 524 mg tiap 30 – 60 menit. Jangan lebih dari 8 kali minum dalam 24 jam. Hindari menggunakan bismuth subsalicylate jika feses Anda berdarah atau mengandung lendir. Anda membutuhkan resep dari dokter untuk mendapatkan obat ini. 4. Attapulgite Attapulgite adalah zat yang memperlambat kerja usus besar agar dapat menyerap lebih banyak air sehingga tekstur feses jadi lebih padat. Sakit perut akibat menceret akan berangsur-angsur pulih setelah minum obat ini. Orang dewasa yang mengalami diare bisa mengonsumsi 2 tablet attapulgite setiap selesai buang air besar. Dosis maksimal adalah 12 tablet dalam sehari. Obat bisa diminum sebelum atau sesudah makan. Jangan lupa juga untuk tetap minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi selama diare. 5. Suplemen probiotik Suplemen probiotik sering digunakan sebagai obat untuk mengatasi menceret pada orang dewasa yang disebabkan bakteri penyebab diare E. coli dan Salmonella. Selama diare, probiotik Lactobacillus dianjurkan dikonsumsi dalam dosis 1 – 10 miliar colony forming units CFU per hari. Untuk probiotik Saccharomyces boulardii, dosis untuk orang dewasa adalah 250 – 500 mg per hari. Suplemenprobiotik untuk diare tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk dan ekstrak cairan. Probiotik bisa dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Probiotik dapat dicampur bersama makanan, air, atau susu agar terserap lebih baik dan mengurangi gejala diare. Tips merawat diri selama diare Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi. Makan makanan sehat yang rendah serat dan mudah dicerna. Mengonsumsi makanan yang tinggi probiotik seperti yoghurt dan tempe. Menghindari makanan yang membuat diare semakin parah, misalnya makanan pedas, gorengan, dan makanan manis. Makan dalam porsi kecil, hal ini dilakukan agar beban kerja usus tidak terlalu berat. Obat antibiotik untuk diare Bila diare disebabkan oleh infeksi yang parah, Anda mungkin akan membutuhkan obat antibiotik untuk menyembuhkannya. Meski begitu, konsumsi obat antibiotik diare tidak boleh sembarangan. Berikut pilihan antibiotik yang diresepkan dokter untuk mengatasi diare. 1. Cotrimoxazole Cotrimoxazole adalah antibiotik yang mengandung dua jenis zat obat, yaitu sulfametoksazol dan trimetoprim. Obat ini diberikan untuk pasien yang mengalami menceret parah karena infeksi bakteri E. coli. Dosis untuk dewasa adalah 960 mg dan diminum 2 kali dalam sehari. Untuk infeksi berat, dosisnya yaitu mg per hari, tapi perlu dibagi menjadi 2 jadwal konsumsi. Kotrimoksazol sebaiknya dikonsumsi bersama makanan atau air putih. Selama menjalani pengobatan, Anda disarankan memperbanyak minum air putih untuk mencegah risiko terjadinya efek samping obat. 2. Ciprofloxacin Obat ini berfungsi untuk membasmi bakteri Campylobacter jejuni dan Salmonella enteritidis. Ciprofloxacin baru akan diresepkan oleh dokter bila antibiotik lini pertama seperti cotrimoxazole dan cefixime tidak menunjukkan efek pada pasien. Orang dewasa bisa minum obat ini sebanyak 2 kali sehari selama diare dengan dosis 500 mg per sekali minum. Dokter biasanya menyarankan untuk mengonsumsi obat 1 – 5 hari, tergantung tingkat keparahan infeksi. Telan kapsul dan tablet ciprofloxacin secara utuh dengan segelas air putih. Konsumsi obat ini setelah makan untuk mencegah sakit maag. 3. Levofloxacin Antibiotik golongan fluoroquinolone ini sering digunakan untuk mengobati diare karena kemampuannya dalam mempercepat durasi penyakit dan bisa ditoleransi lebih baik oleh tubuh. Namun, pemakaian obat antibiotik ini harus dalam pengawasan dokter. Anda harus memeriksakan diri terlebih dahulu ke klinik untuk memperoleh obat ini. Orang dewasa yang mengalami diare bisa minum obat ini sekali sehari 500 mg. Dokter bisa menaikkan dosis hingga 750 mg jika memang diperlukan. Efek dari obat ini akan terasa sekitar 6 – 9 jam setelah minum dosis pertama. 4. Cefixime Cefixime digunakan untuk diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Diare yang disebabkan oleh bakteri ini juga biasanya memunculkan gejala muntaber. Saat mengalami diare, Anda bisa mengonsumsi obat ini sekali sehari dengan dosis 400 mg atau 200 mg setiap 12 jam. Meski demikian, cefixime bisa berpotensi menyebabkan mual dan rasa tidak nyaman pada perut. Oleh karena itu, konsumsi makanan yang tidak terlalu berat untuk dicerna saat meminum obat ini. 5. Metronidazole Antibiotik yang satu ini bekerja untuk mengobati infeksi bakteri pada lambung atau usus. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet atau obat cair. Obat ini perlu didapatkan lewat resep dokter. Dosis yang diberikan akan bergantung pada kondisi Anda. Orang dewasa umumnya perlu minum obat ini 3 kali sehari dengan dosis 250 – 750 mg saat diare. Metronidazole tidak disarankan untuk ibu hamil, terutama bila kandungan masih berada pada trimester pertama. Efeknya dapat membahayakan bayi dalam kandungan. Bila masih memilih pertanyaan seputar obat diare, konsultasikan kepada dokter Anda. Mendapatkan pengobatan dokter lebih awal bisa mencegah terjadinya komplikasi diare yang berbahaya.
contoh askep diare pada orang dewasa